Jumat, 16 September 2011
Senin, 05 September 2011
Dropshipping
Seperti apa wujud dropshipping? Apakah yang menjadi alasan mereka melakukan transaksi dropshipping? Bagaimana potensi kerugian yang bisa timbul dari dropshiping? Simak penjelasannya berikut ini:
Dropshipping adalah metode pengiriman produk di mana penjual (pengecer/pemilik toko) menerima pembayaran untuk pesanan, tetapi pelanggan menerima produk langsung dari produsen. Di dalam pengaturan Dropshipping, pengecer bertindak sebagai perantara antara produsen dan pelanggan. Atau kalau mau dibuat simple.
A(pembeli/konsumen)==>B(Pengecer/toko)==>C(Produsen/Pemilik product)==>A(pembeli/konsumen)
Lalu apa bedanya dengan makelar atau sistem affiliasi?? Sepintas memang sama, namun yang menjadi perbedan antara affiliasi dengan Dropship adalah seorang Affilate Marketer(makelar) hanya mengarahkan konsumen ke pemilik product (produsen) dan melakukan transaksi jual beli sendiri dengan pemilik produk, dan dia menerima komisi dari produsen atas hal tersebut, sehingga seorang affiliate marketer boleh dibilang sebagai makelar/pialang murni, sedang untuk sistem Drophip pemilik toko bertindak sebegai "semi makelar". Kenapa dibilang semi?? Karena selain sbg makelar ia juga bertindak sebagai penjual walaupun sebenarnya ia tidak memiliki barng/produk tersebut atau sebagai perantara saja.
Lalu apa keuntungan sistem dropship? Sehingga orang memunculkan ide tersebut??
Kenapa orang tertarik system dropsip diantara keuntunganya adalah :
Bagi produsen
1. Memperluas jaringan marketing, tanpa membayar banyak membayar tenaga sales, karena pada dasarnya ia punya pos-pos kecil untuk memasarkan produknya,
2. Hemat biaya pemindahan barang. Jelas untuk memasarkan barang ke tempat yang jauh dan menemui pengecernya, produsen harus memindahkan barang ke tempat tersebut agar menjangkau pengecer disekitarnya. Dengan Dropship hal itu tidak perlu dilakukan. Produsen tinggal nunggu order datang dari pengecernya lalu kirim barang ke konsumen.
Untuk Pengecer
1. Tidak perlu modal besar untuk memulai usaha. Tinggal buat catalog dipasarkan, lalu tunggu order datang, tanpa perlu modal untuk kulakan barang.
2. Menghemat ongko kirim. Dengan Dropship, barang dapat langsung dikirim ke tempat konsumen dari produsen tanpa harus "mampir" ke pengecer terlebih dahulu. Dengan sisten "by pass" seperti ini tentu menekan onkos kirim.
3. Bebas resiko barang tidak laku. Kenapa?? Gimana mau ada resiko barang tidak laku, kalau barang yang dijual itu bukan miliknya.
4. Tidak perlu direpotkan dengan tempat penyimpanan barang, karena barang seluruhnya masih ada di produsen. Penyimpanan barang tentu untuk kapasitas kecil tidak jadimasalah namun urntuk partai besar tentu haru s dipikirkan gudang khusus. Dan perlu alokasi dana tentunya.
5. Bebas resiko barang rusak/expired. Karena barang bisa dipilih langsung yang masih fresh saat masih diprodusen.
Dengan segala kemudahan itu tentu menjadikan "ngiler" praktisi marketing, terutama di era digital/internet seperti sekarang dimana pembali tidak bertatap muka langsung dengan penjualnya. Namun dibalik semua itu system ini juga menyimpan resiko yang tak kalah besar. Dinantaranya :
1. Pengecer/pemilik toko tidak bisa memastikan kualitas barang (meliputi fungsi, tanggal expired, garansi, cacad atau tidak, dimensi, dll). Gimana mau memastikan kualitas barang, kalau melihat barang yang akan dikirim saja tidak. Masalah lebih rumit, kalau si produsen ternyta tidak terperaya, atau mengelurkan stok lamanya dengan kulitas yang jelek. Tentu konsumen yang menjadi kornanya.
2. Pengecer tidak bisa memastikan dengan jelas berpa stok barangnya. Hal ini akan bermasalah kalau terjadi pembelian dengan partai besar, sedang sebagai penjual ia dituntut benar- benar mengetahui kondisi terakhir stoknya.
3. Tidak bisa memastikan barang sudah dikirim barang atau tidak oleh produsen. Saat terjadi delay atau konsumen tidak menerima barang, maka akan kesulitan melacak, karena pada dasarnya penjual sendiri tidak mengirimnya.
4. Menjadikan ongkos kirim (shipping cost) tidak sesuai dengan persepsi pembeli. Konsumen tentu mengukur ongkos kirim antara tempat tujuan kirim dengan tempat penjualnya. Sebagai contoh penjual dari Semrang dan pembeli di solo sedang barang dikirim dari Medan, tentu pembeli berpikir kenapa barang dikirim dari medan kalau penjualnya di Semarang.
5. Dapat merusak reputasi. Bisa saja reputasi pengecer rusak akiba ulah produsen, semisal barang tidak dikirim. Tentunya pembeli tidak mau tahu, tetang kondisi produsen, karena dia memang hanya bertransaksi dengan pengecer/pemilik toko.
Dengan ulasan tersebut sebaiknya dipikir ulang dagang system dropship, karena sebenarnya boleh dibilang itu penjulan semu ke konsumen karena terjadi banyak permainan didalamnya. Kalau konsumen tahu dan mengerti bahwa penjual memakai sistem dropship tentu juga berpikir ulang, kenapa? Siapa mau beli di orang yang barangnya saja tidak pegang. Masuk akal kan??
Senin, 29 Agustus 2011
Selasa, 08 Maret 2011
Tips Bisnis Counter Pulsa
Mengapa Berbisnis Pulsa?
- Banyak masyarakat yang tidak mau repot, karena keterbatasan waktu.
- Pulsa harganya murah, cepat, dan praktis, bisa menghemat lokasi menyimpan pulsa karena pulsa hanya disimpan dalam ponsel.
- Tempat dapat berupa kios sederhana, di lokasi-lokasi yang banyak dilewati orang-orang.
1. Kebutuhan modal awal:
o HP untuk menjual pulsa : Rp 300.000
o Promosi : spanduk, pamflet, kartu nama: Rp 100.000
o Total : Rp 400.000
2. Ongkos rutin bulanan:
o Pulsa untuk mengirimkan pulsa = Rp 25.000
o Total : Rp 25.000
3. Estimasi pemasukan:
Setiap hari diperkirakan bisa menjual 10 pulsa per hari.
Berarti penjualan per bulan adalah 10x30 buah pulsa , totalnya = 300 pulsa per bulan.
Laba kotor:
Laba per pulsa = Rp 2000
Laba kotor per bulan = Rp 2000 x 300 pulsa = Rp 600.000
o HP untuk menjual pulsa : Rp 300.000
o Promosi : spanduk, pamflet, kartu nama: Rp 100.000
o Total : Rp 400.000
2. Ongkos rutin bulanan:
o Pulsa untuk mengirimkan pulsa = Rp 25.000
o Total : Rp 25.000
3. Estimasi pemasukan:
Setiap hari diperkirakan bisa menjual 10 pulsa per hari.
Berarti penjualan per bulan adalah 10x30 buah pulsa , totalnya = 300 pulsa per bulan.
Laba kotor:
Laba per pulsa = Rp 2000
Laba kotor per bulan = Rp 2000 x 300 pulsa = Rp 600.000
o Estimasi modal per pulsa: Rp 10.000, Harga jual: Rp 12.000
o Estimasi laba per bulan : (pemasukan - pengeluaran) = (laba kotor - ongkos)
= ( 600.000 - 25.000) = Rp 575.000 o Estimasi laba per bulan : (pemasukan - pengeluaran) = (laba kotor - ongkos)
Pentingnya sebuah lokasi:
Bagi sebagian besar bisnis, lokasi adalah kunci yang terpenting. Pada usaha produksi, lokasi yang banyak sumber daya manusia dan dekat dengan sumber bahan produksi akan membantu meningkatkan efisiensi. Pada usaha dagang, lokasi yang yang tepat bisa membedakan antara keberhasilan dengan kegagalan. Pada usaha jasa, lokasi yang mudah dijangkau oleh customer bisa meningkatkan penghasilan Anda.
Mencari lokasi ini bisa sulit sekali, karena daerah-daerah strategis biasanya sudah ditempati. Atau menjadi mall / ITC, yang biaya sewanya juga sangat mahal. Tapi bisa juga menjadi mudah sekali, seperti misalnya jika silaturahmi kita bagus dan luas. Maka bisa saja tiba-tiba justru ada orang yang menawarkan tempatnya kepada Anda, tanpa perlu mencari-cari.
Jika Anda menemukan bahwa usaha Anda memang membutuhkan lokasi yang bagus, maka jangan sekali-kali tergoda untuk memulai usaha sebelum menemukannya. Gencarkanlah usaha Anda untuk menemukan lokasi idaman tersebut. Silaturahmi juga dapat sangat membantu disini.
Tips: seringkali kita bisa menumpang lokasi. Seperti pada contoh usaha pulsa ini, karena kiosnya kecil, maka kita bisa menumpang di halaman minimarket Indomaret / Alfamaret, dengan membayar biaya sewa bulanan. Ini cenderung lebih murah daripada kita menyewa khusus untuk usaha kita sendiri.
Modal
Idealnya memang modal bisa 100% dari Anda sendiri. Tapi ini mungkin tidak selalu demikian halnya. Seringkali kita memerlukan tambahan dana dari investor lainnya. Untuk memulai bisnis, saya sarankan untuk menghindari pinjaman bank, walaupun bank syariah. Lagipula pinjaman bank ini sering mengecoh. Kadang kita lupa, apalagi jika tidak ada pembukuan yang rapi, sehingga mengira uang bank sebagai uang kita sendiri. Walhasil, banyak orang yang kemudian justru memakai uang bank untuk membeli rumah, mobil, dan benda-benda yang lebih bersifat konsumtif lagi. Selain terkecoh seperti itu, kadang juga kita lupa memperhitungkan beban bunga bank dan cicilan bank. Contoh; pada usaha warung, persentase labanya sangat tipis - seperti susu, labanya hanya sekitar 1% - 2%. Padahal harganya mahal sekali ya, siapa sangka ternyata labanya luar biasa tipis seperti itu. Jika tidak hati-hati dalam memanfaatkan pinjaman bank, maka kita bisa kesulitan bahkan sekedar untuk membayar bunga setiap bulannya.
Ketika semuanya telah siap, maka kini waktunya untuk melaksanakan. Beberapa hal yang perlu Anda perhatikan :
1. Promosi : Tidak ada gunanya Anda menjual barang/jasa yang sangat berguna, dengan harga yang murah, jika orang tidak tahu bahwa Anda ada.
Promosi adalah suatu keharusan bagi setiap usaha. Namun, promosi yang ngawur juga justru bisa menghabisi suatu usaha.
Untuk usaha yang tergantung pada lokasi, Anda perlu menyisihkan dana untuk membuat papan nama yang besar dan jelas.
Sisihkan waktu/dana tambahan untuk membuat desain yang menarik pandangan mata orang yang tadinya hanya lewat. Tidak ada gunanya membuat papan nama besar jika bahkan sekedar dilirik pun tidak.
Promosi adalah suatu keharusan bagi setiap usaha. Namun, promosi yang ngawur juga justru bisa menghabisi suatu usaha.
Untuk usaha yang tergantung pada lokasi, Anda perlu menyisihkan dana untuk membuat papan nama yang besar dan jelas.
Sisihkan waktu/dana tambahan untuk membuat desain yang menarik pandangan mata orang yang tadinya hanya lewat. Tidak ada gunanya membuat papan nama besar jika bahkan sekedar dilirik pun tidak.
2. The only constant is change - satu-satunya hal yang pasti adalah perubahan.
Dalam melakukan usaha, sulit untuk bisa duduk tenang berpangku tangan. Akan selalu muncul hal-hal baru; pesaing baru, kenaikan ongkos, perubahan pasar, dan lain-lainnya. Karena itu, Anda harus selalu siap untuk menghadapi masalah yang baru.
3. Customer service : Pembeli adalah raja, demikian pepatah yang sering kita dengar. Setelah melayani mereka dengan ramah, baik, dan sabar; maka biasanya beberapa customer akan merasa nyaman untuk berterus terang kepada Anda.
Dari mereka Anda akan mendapatkan informasi-informasi paling berharga untuk usaha Anda tersebut — apa saja kekurangan Anda, apa kelebihan, apa potensi yang masih bisa digarap / dikembangkan.
Customer service juga bisa menjadi kelebihan Anda dari para pesaing Anda, ketika usaha Anda sama dengan mereka.
Berikan layanan yang lebih - layan antar, barang yang bisa dibuat sesuai pesanan, dan seterusnya.
4. Hemat : Salah satu godaan dalam berbisnis adalah untuk berfoya-foya ketika memegang uang agak banyak.
Semua pengusaha sukses yang saya kenal adalah orang yang hemat.
Bahkan walaupun mereka kelihatan kaya / boros; namun ternyata sebetulnya masih termasuk hemat jika dibandingkan dengan income / pemasukan mereka.
Ingatlah bahwa Anda baru memulai usaha Anda. Jalan Anda masih panjang. Pepatah “bersakit-sakit dahulu, bersenang kemudian” harus Anda camkan di benak Anda.
Berbisnis itu sulit ? Mudah ? Semuanya kembali kepada Anda. Namun, dengan perencanaan yang baik, maka segala hal bisa menjadi lebih mudah.
Selamat memulai usaha Anda.
Langganan:
Postingan (Atom)








