Senin, 05 September 2011

Dropshipping

Seperti apa wujud dropshipping? Apakah yang menjadi alasan mereka melakukan transaksi dropshipping? Bagaimana potensi kerugian yang bisa timbul dari dropshiping? Simak penjelasannya berikut ini:

Dropshipping adalah metode pengiriman produk di mana penjual (pengecer/pemilik toko) menerima pembayaran untuk pesanan, tetapi pelanggan menerima produk langsung dari produsen. Di dalam pengaturan Dropshipping, pengecer bertindak sebagai perantara antara produsen dan pelanggan. Atau kalau mau dibuat simple.

A(pembeli/konsumen)==>B(Pengecer/toko)==>C(Produsen/Pemilik product)==>A(pembeli/konsumen)

Lalu apa bedanya dengan makelar atau sistem affiliasi?? Sepintas memang sama, namun yang menjadi perbedan antara affiliasi dengan Dropship adalah seorang Affilate Marketer(makelar) hanya mengarahkan konsumen ke pemilik product (produsen) dan melakukan transaksi jual beli sendiri dengan pemilik produk, dan dia menerima komisi dari produsen atas hal tersebut, sehingga seorang affiliate marketer boleh dibilang sebagai makelar/pialang murni, sedang untuk sistem Drophip pemilik toko bertindak sebegai "semi makelar". Kenapa dibilang semi?? Karena selain sbg makelar ia juga bertindak sebagai penjual walaupun sebenarnya ia tidak memiliki barng/produk tersebut atau sebagai perantara saja.

Lalu apa keuntungan sistem dropship? Sehingga orang memunculkan ide tersebut??
Kenapa orang tertarik system dropsip diantara keuntunganya adalah :
Bagi produsen
1. Memperluas jaringan marketing, tanpa membayar banyak membayar tenaga sales, karena pada dasarnya ia punya pos-pos kecil untuk memasarkan produknya,

2. Hemat biaya pemindahan barang. Jelas untuk memasarkan barang ke tempat yang jauh dan menemui pengecernya, produsen harus memindahkan barang ke tempat tersebut agar menjangkau pengecer disekitarnya. Dengan Dropship hal itu tidak perlu dilakukan. Produsen tinggal nunggu order datang dari pengecernya lalu kirim barang ke konsumen.

Untuk Pengecer
1. Tidak perlu modal besar untuk memulai usaha. Tinggal buat catalog dipasarkan, lalu tunggu order datang, tanpa perlu modal untuk kulakan barang.
2. Menghemat ongko kirim. Dengan Dropship, barang dapat langsung dikirim ke tempat konsumen dari produsen tanpa harus "mampir" ke pengecer terlebih dahulu. Dengan sisten "by pass" seperti ini tentu menekan onkos kirim.
3. Bebas resiko barang tidak laku. Kenapa?? Gimana mau ada resiko barang tidak laku, kalau barang yang dijual itu bukan miliknya.
4. Tidak perlu direpotkan dengan tempat penyimpanan barang, karena barang seluruhnya masih ada di produsen. Penyimpanan barang tentu untuk kapasitas kecil tidak jadimasalah namun urntuk partai besar tentu haru s dipikirkan gudang khusus. Dan perlu alokasi dana tentunya.
5. Bebas resiko barang rusak/expired. Karena barang bisa dipilih langsung yang masih fresh saat masih diprodusen.

Dengan segala kemudahan itu tentu menjadikan "ngiler" praktisi marketing, terutama di era digital/internet seperti sekarang dimana pembali tidak bertatap muka langsung dengan penjualnya. Namun dibalik semua itu system ini juga menyimpan resiko yang tak kalah besar. Dinantaranya :

1. Pengecer/pemilik toko tidak bisa memastikan kualitas barang (meliputi fungsi, tanggal expired, garansi, cacad atau tidak, dimensi, dll). Gimana mau memastikan kualitas barang, kalau melihat barang yang akan dikirim saja tidak. Masalah lebih rumit, kalau si produsen ternyta tidak terperaya, atau mengelurkan stok lamanya dengan kulitas yang jelek. Tentu konsumen yang menjadi kornanya.
2. Pengecer tidak bisa memastikan dengan jelas berpa stok barangnya. Hal ini akan bermasalah kalau terjadi pembelian dengan partai besar, sedang sebagai penjual ia dituntut benar- benar mengetahui kondisi terakhir stoknya.
3. Tidak bisa memastikan barang sudah dikirim barang atau tidak oleh produsen. Saat terjadi delay atau konsumen tidak menerima barang, maka akan kesulitan melacak, karena pada dasarnya penjual sendiri tidak mengirimnya.
4. Menjadikan ongkos kirim (shipping cost) tidak sesuai dengan persepsi pembeli. Konsumen tentu mengukur ongkos kirim antara tempat tujuan kirim dengan tempat penjualnya. Sebagai contoh penjual dari Semrang dan pembeli di solo sedang barang dikirim dari Medan, tentu pembeli berpikir kenapa barang dikirim dari medan kalau penjualnya di Semarang.
5. Dapat merusak reputasi. Bisa saja reputasi pengecer rusak akiba ulah produsen, semisal barang tidak dikirim. Tentunya pembeli tidak mau tahu, tetang kondisi produsen, karena dia memang hanya bertransaksi dengan pengecer/pemilik toko.

Dengan ulasan tersebut sebaiknya dipikir ulang dagang system dropship, karena sebenarnya boleh dibilang itu penjulan semu ke konsumen karena terjadi banyak permainan didalamnya. Kalau konsumen tahu dan mengerti bahwa penjual memakai sistem dropship tentu juga berpikir ulang, kenapa? Siapa mau beli di orang yang barangnya saja tidak pegang. Masuk akal kan??

Tidak ada komentar:

Posting Komentar